Sidebar

Saturday, February 13, 2010

6. Semua Dimulai Disini...

"Whoaa, dimana aku?? semua tampak seperti berbayang..." Evan terperangah karena tempat dimana dia berada sekarang bukan lah kamarnya. Sekelilingnya hanya ada jam antik yang berbayang. Bentuknya meliuk-liuk seperti mengambang. Mulai dari Grandfather Clock sampai Titus Matic ada di sekelilingnya. Semua tampak seperti bayangan yang bengkok. Jam itu tidak lah sebuah kenyataan, tapi sebuah ilusi.


Evan memandangi sekelilingnya. Dia masih mengenakan piyama bergaris yang biasa dia pakai sewaktu tidur. Matanya menerawang ke sekeliling, Dia tidak tahu ada di mana dirinya sekarang. Semua tampak seperti ilusi. Asap sesekali melintas melewati dirinya. Sekelilingnya gelap. Hitam, tapi dia tetap bisa melihat dirinya dan melihat ilusi bayangan dari berbagai jam yang ada di sekelilingnya. Bahkan, dibawah telapak kaki nya pun, hanya ada warna hitam dan berbagai ilusi jam. Jarum pendek dan jarum panjangnya.


Dia berjalan menyusuri tempat itu. Kepala nya menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi hanya ilusi itu yang dia lihat. Tidak ada benda lain yang dia lihat di sekelilingnya selain jam, jarum panjang dan jarum pendeknya. Ketakutan mulai menghinggapi dirinya. Dia sendirian di sebuah tempat yang dia tidak ketahui. Tidak ada papa dan mamanya disana. Tidak ada Jimmy, Richard, Rina, Benny dan Jessica di sana. Tidak ada mbok Murti dan pak Djarot juga disana. Dia sendirian di temani piyama dan ilusi jam. Dia terus berjalan, tanpa tau dia berbelok atau tidak. Semakin dia cepat berjalan, tampak kalau dia hanya berjalan di tempat. Dia tidak kemana-mana sebenarnya karena berjalan atau tidak, sekelilingnya tidak ada yang berubah. Jam-jam itu datang dan pergi dengan jarum panjang dan jarum pendeknya. Jarum panjang pada angka 12 dan jarum pendek pada angka 12. Semua menampakan pemandangan yang sama sejauh mata Evan memandang.

Thursday, February 11, 2010

5. 12 Tahun

17 Desember 1989
Kediaman Evan Mort Dunville - 15.34 WIB, Jakarta.


"HAPPY BIRTHDAY EVAN!!!!!!!!!!!!" teriak seluruh undangan kepada Evan setelah Evan meniup api pada lilin berbentuk angka 12 itu. Jane dan Thomas, orang tua Evan, menyergap Evan berbarengan dan mencium pipi Evan sambil mengucapkan selamat ulang tahun bagi anak tercintanya. Bagi mereka, Evan adalah anugerah terindah yang mereka miliki dan merupakan satu-satunya yang akan mereka miliki, walau tidak sampai akhir. Kecupan manis dari sang orang tua menandakan kalau sekarang setiap undangan dapat memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Evan. Satu persatu, teman-teman Evan yang hadir bergantian menyalami Evan dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tidak ada raut muka sedih pada hari itu. Semua berbahagia. Dan seperti biasa, Nina dan Steven baru saja datang, dengan alasan macet.

"Halooo Evan, maaf om telat. Biasa, Jakarta macet parah van! kamu tau sendiri, sekarang mobil banyak banget di Jakarta..." kata Steven dengan wajah sedikit memelas kepada Evan. "Ahh, si om mah! Udah tau aku ulang tahun jam 7 tadi, sekarang udah jam 8 baru dateng. Tukang telat nih emang dari dulu!!" gumam Evan menggerutu. "Aduuh, Evan sayaaaanngg. Tante udah berangkat dari jam 5 sore tau, tapi si om kamu itu bawa mobil nya lama. Udah tau dari Bekasi ke Pluit kan jauh yah??" kata Nina menyalahkan Steven. "Ini van, hadiah kamu. Mama papa mana??" kata Nina sambil menyerahkan bingkisan yang besarnya hampir setengah badan anak berumur 12 tahun. Sontak, Evan yang tadinya menggerutu langsung berubah senang karena kado yang besar baru saja di dapatnya dari kawan mama nya yang langganan telat setiap ada acara. "WAHHH, thanks yah om, tante..!!hehe..mama papa tuh lagi di meja makan. Lagi ngobrol sama orang tuanya teman-teman aku.." kata Evan sambil menunjuk ke arah Jane dan Thomas yang sedang berbincang bersama beberapa orang tua lainnya yang pada hari itu datang menemani anaknya memenuhi undangan ulang tahun Evan yang ke 12. "haha..dasar kamu Van. Dikasih hadiah langsung baik. Om kesana dulu yahh.." kata Steven sambil mengacak-ngacak rambut Evan.

Wednesday, February 3, 2010

4. Sindikat Rahasia

Seseorang dengan stelan jas hitam, celana kain hitam, bertopi ala koboy dengan warna hitam dan berperawakan tinggi besar berjalan menyusuri lorong gelap sebuah gedung tua. Sepatu pantofel hitam dan mengkilat miliknya menimbulkan efek bunyi berderap di seluruh ruangan. Langkah kaki pasti dari seseorang yang di segani oleh kalangan sindikat rahasia seluruh dunia. Sebuah selendang putih melingkar di lehernya, seperti Don Corleone dandanannya. Asap mengepul dari rokok yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya namun asap rokok itu tidak mempengaruhi harum badannya. Berjalan berderap menuju sebuah ruangan untuk membicarakan sesuatu yang akan menentukan garis keturunan seseorang. Dia memiliki tato bunga berbentuk trisula di bahu kanannya.

Bunyi pantofel itu berhenti. Sosok orang berperawakan tinggi besar itu menghadapkan dirinya pada sebuah pintu yang berdekorasi kaca di bagian tengahnya. Kaca nya tidak seperti cermin yang memantulkan objek di depannya tetapi kaca itu transparan namun tidak jernih melainkan samar-samar. Di situ tergantung sebuah papan kecil yang bertuliskan "Ruang Direksi". Dia mengulurkan tangannya dan membuka pintu. Bunyi pintu yang mengernyit, berhasil membuat seisi ruang direksi menoleh kepada sosok yang berperawakan besar itu. Dia masuk kedalam ruangan, melewati pintu dan menutupnya. Lalu dia berdiri memandangi semua orang yang duduk melingkari meja berbentuk oval di tengah ruangan. Ruangan itu cukup besar, seperti ruang rapat yang biasa ada di kantor-kantor. Ada sebuah papan tulis putih di ujung tengah ruangan, tepatnya di belakang sebuah kursi kosong. Kursi itu adalah satu-satunya kursi yang kosong dari 20 kursi yang ada di ruang direksi.

Sunday, January 31, 2010

3. Tanda Misterius

"Papa!!! lempar bola nya kesini..cepaaattt!!!"
"Iyaa..haha..awas tuh, kamu mundur-mundur nanti kena orang yang lagi tiduran.."
Benar saja, Evan tersandung orang yang sedang berbaring menikmati cahaya matahari yang tidak terlalu panas namun tidak terlalu redup juga di Pantai Ancol, 1982. Pantai yang bersih dan luas. Pasir terhampar dan banyak anak-anak selain Evan yang bermain dengan keluarga nya di pantai itu. Ada yang membuat istana pasir, robot yang bentuk nya kurang jelas dan bahkan ada yang membut sebuah lingkaran tapi si anak bersikukuh kalau itu adalah persegi. Betul-betul hari minggu yang cerah untuk menghabiskan waktu dengan keluarga tercinta.

"Aduhhh.." seru Evan yang terjatuh karena berjalan mundur dan tidak mengetahui kalau di belakangnya ada seorang wanita yang sedang berbaring tidur. "Watch it kids!!!" ternyata dia adalah turis mancanegara. Dia tidak marah karena Evan sudah mengganggu waktu nya tapi malah menolong Evan yang hampir terjatuh karena menyandung badannya itu. "EVAN!!!" seru Thomas Wijaya kepada Evan, anaknya. Dia berlari menghampiri Evan dan jongkok membersihkan pasir di kaki Evan. "Are you alright kids??" tanya turis itu perhatian. "Ohh miss, thanks for your help...i'm sorry for my son. I'm his father.." balas Thomas kepada turis itu. Evan tidak mengerti apa yang ayah nya dan turis itu bicarakan karena Evan belum masuk sekolah. Dia masih berumur 5 tahun. Setelah berbincang sebentar, Thomas dan Evan meninggalkan turis itu. Si turis juga kembali melanjutkan aktivitas nya. "Kamu hati-hati dong van...Ini kan pantai, orang tiduran seenak mereka. Nah kalo kamu nya mundur-mundur gitu terus, kan seperti tadi tuh kena kakak bule..untung dia tidak marah sama kamu kan.." ujar Thomas kepada Evan. Evan diam saja tanda mengerti. "Ayo deh, kita main bola lempar lagi Van. Liat-liat belakang kamu yah sekarang, hehehe..".


Thursday, January 28, 2010

2. Louis Theodore Mort Dunville - 1676

"PERINTAHKAN SELURUH PERAJURIT UNTUK BERSIAP-SIAP DI POS JAGANYA, INI SERANGAN MENDADAK!!! SANGAT MENJIJIKAN SEKALI!!!!!!" teriak seorang dengan tubuh tinggi tegap dan berjanggut sedikit tebal tapi tidak terlalu panjang. Mata nya bulat hitam dan tajam, tanda kesigapan dan ketelitian nya yang tanpa batas. Jubah merah dengan motif kesatria yang anggun, menambah kharisma dan wibawa nya dalam memimpin 15.000 prajuritnya. Dia adalah Louis Theodore Mort Dunville, raja Olinesia.


Olinesia adalah kerajaan kecil yang berada di sebelah barat daya Britania Raya, tepatnya berbatasan dengan Plymouth. Kerajaan ini memang tidak pernah tersentuh oleh sejarah karena peradaban kerajaan ini hilang pada saat perang Raja Philips menggelora (1675-1676). Penduduk nya berjumlah 8.000 wanita dan anak-anak, belum termasuk laki-laki.


King Louis T. memerintahkan 5 jendral besar nya agar mengerahkan seluruh perajurit yang dimiliki Olinesia untuk membendung serangan dari para penduduk asli Amerika yang di pimpin Metacomet atau yang lebih di kenal dengan King Philip. Mereka berjumlah 30.000 prajurit pada saat melakukan ekspansi ke Olinesia dan di pimpin oleh Daniel Rosewood.

Tuesday, January 26, 2010

1. Kelahiran, awal dari segalanya...

19 Desember 1977, 16.55 WIB
RSTM, Jakarta, Indonesia

Suara tangisan itu memecahkan suasana tegang yang menghampiri selama kurang lebih 3 jam di Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo. Artikan sebagai sebuah jeritan tanda senang karena dia akhirnya bisa menghirup udara segar dunia yang baru baginya tangis itu namun bisa artikan juga kalau tangisnya itu adalah awal mula dari seluruh penderitaan nya. Dia tidak mengetahui apa-apa dan juga dia tidak meminta untuk di lahirkan dengan mengemban nama keluarga Mort yang sekarang sudah bertengger mesra di pundak kecilnya itu. Dia sangat tidak pantas untuk mengemban beban buah perilaku dari para leluhurnya itu. Terlalu murni untuk di campur adukan dengan limbah kotoran yang turun temurun menguasai keluarga itu. Dan kali ini limbah itu dengan segala kekejian nya menguasai dan bahkan merenggut bayi yang sama sekali belum bernoda dengan paksa, merasuk dan mengkonsumsi setiap sumsum tulang bayi yang masih empuk juga menempati setiap celah di rongga dada nya...Menduduki setiap sudut dari tubuh bayi itu, dan di detik hidup pertama sang bayi, bayi itu sudah menyimpan tanggal kematian nya sendiri dan dia akan tahu itu segera....


The Evan's Days On Earth


"ohh thom lihat dia, dia sangat mirip dengan Jessica. Mata hitam nya itu benar-benar mirip dengan Jessica. Aku tak bisa membayangkan bila Jessica melihat nya saat ini, dia pasti sangat senang melihat anak nya.." ucap Jane Brown kepada Thomas Wijaya suaminya. Jane Brown adalah seorang wanita Belanda yang tinggal dan menetap di Indonesia. Dia tinggal di Indonesia semenjak masih berusia 12 tahun dan sekarang usianya sudah menginjak kepala 3, tepatnya 35 tahun. Namun dia dan Thomas Wijaya, seorang pria asal Bandung yang adalah suaminya, tidak bisa memiliki keturunan karena Jane mandul dan Thomas karena cintanya yang begitu besar terhadap Jane, bisa menerima keadaan Jane yang tidak bisa memberinya keturunan. Thomas dan Jane adalah kawan karib Jessica Mort, teman Jane dari dia kecil. Dan Jessica Mort adalah ibu dari anak yang sekarang sedang menangis meraung di atas gendongan Jane. Jessica meninggal sewaktu melahirkan anak itu dan sekarang, hak asuh itu akan jatuh ke tangan Jane dan Thomas karena permintaan dari Jessica semasa hidupnya. Jessica tau, kapan waktu nya dia akan meninggal...