"Whoaa, dimana aku?? semua tampak seperti berbayang..." Evan terperangah karena tempat dimana dia berada sekarang bukan lah kamarnya. Sekelilingnya hanya ada jam antik yang berbayang. Bentuknya meliuk-liuk seperti mengambang. Mulai dari Grandfather Clock sampai Titus Matic ada di sekelilingnya. Semua tampak seperti bayangan yang bengkok. Jam itu tidak lah sebuah kenyataan, tapi sebuah ilusi.
Evan memandangi sekelilingnya. Dia masih mengenakan piyama bergaris yang biasa dia pakai sewaktu tidur. Matanya menerawang ke sekeliling, Dia tidak tahu ada di mana dirinya sekarang. Semua tampak seperti ilusi. Asap sesekali melintas melewati dirinya. Sekelilingnya gelap. Hitam, tapi dia tetap bisa melihat dirinya dan melihat ilusi bayangan dari berbagai jam yang ada di sekelilingnya. Bahkan, dibawah telapak kaki nya pun, hanya ada warna hitam dan berbagai ilusi jam. Jarum pendek dan jarum panjangnya.
Dia berjalan menyusuri tempat itu. Kepala nya menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi hanya ilusi itu yang dia lihat. Tidak ada benda lain yang dia lihat di sekelilingnya selain jam, jarum panjang dan jarum pendeknya. Ketakutan mulai menghinggapi dirinya. Dia sendirian di sebuah tempat yang dia tidak ketahui. Tidak ada papa dan mamanya disana. Tidak ada Jimmy, Richard, Rina, Benny dan Jessica di sana. Tidak ada mbok Murti dan pak Djarot juga disana. Dia sendirian di temani piyama dan ilusi jam. Dia terus berjalan, tanpa tau dia berbelok atau tidak. Semakin dia cepat berjalan, tampak kalau dia hanya berjalan di tempat. Dia tidak kemana-mana sebenarnya karena berjalan atau tidak, sekelilingnya tidak ada yang berubah. Jam-jam itu datang dan pergi dengan jarum panjang dan jarum pendeknya. Jarum panjang pada angka 12 dan jarum pendek pada angka 12. Semua menampakan pemandangan yang sama sejauh mata Evan memandang.
Evan tidak peduli apakah dia berjalan atau hanya sekedar tampak berjalan. Dia terus melangkahkan kaki nya mencari pintu keluar dari tempat aneh tersebut. Berlari dia. Dia hanya ingin keluar dan hidup dengan semua orang di sekitarnya lagi. Tapi rasanya saat ini dia belum berhasil menemukannya. Di kejauhan, ada sebuah jam besar yang menyerupai Grandfather Clock tapi jauh lebih besar dari pada ukuran standardnya. Ukuran jam itu sebesar rumah Evan. Mirip dengan Big Band di London dan Jam Gadang di Padang, Sumatra Barat tapi jam itu tidak melonjong ke atas. Dia memanjang kesamping sekitar 10 meter dengan tebal 5 meter. Berukuran persegi panjang di bagian bawah dan beberapa ornamen emas yang menghiasinya. Ada rongga-rongga panjang dari atas sampai bawah dan di tengah bagian bawah, terdapat pintu masuk kedalam. Pintu itu terbuat dari kayu Ebony dengan kenop pintu sebelah-menyebelah di bagian tengah. Di bagian atas bangunan jam yang berbentuk persegi panjang itu, terdapat 3 buah jam yang melonjong ke atas. Sebelah kiri, tengah dan kanan namun yang tertinggi di bagian tengah. Dan tepat di atas pintu yang terbuat dari kayu Ebony, terdapat tulisan "Ceux Qui Vivent Aujord'hui Et Plus Tard".
Ketiga menara jam yang berdiri menjulang sebelah-menyebelah itu masing-masing bermuka empat dan kali ini setiap jam nya menunjukan pukul yang berbeda dan ada plang nama yang berbeda pula di atas nya namun, dari ketiga menara jam ini hanya menara yang di tengah yang memiliki sebuah lonceng. Jam pertama menunjukan pukul 11. 35. Jarum panjang di angka 7 dan jarum pendek mengarah tepat di angka 11. Sedangkan di menara jam ketiga, jam menunjukan pukul 08.19. Jarum panjang menunjukan angka 4 namun kurang 1 second sedangkan jarum pendek menunjukan tepat angka 8. Sedangkan di menara jam kedua, yang tengah dan yang paling tinggi dari kedua menara jam lainnya, jarum panjang dan jarum pendeknya menunjukan angka yang sama dengan ilusi-ilusi jam yang dari tadi dilihat oleh Evan. Jarum nya menunjukan tepat pukul 12 dimana jarum panjang dan pendeknya menunjukan angka ke 12 bersamaan. Dan tulisan yang terpampang besar di bawah muka jam dari setiap menara jam itu, Date, Horloge, dan Annee.
Evan bingung memandangi bangunan di depannya itu. Ketiga menara jam yang berdiri di atas bangunan persegi panjang berornamen emas tampak sangat menakjubkan. Tapi tidak berapa lama, lonceng pada menara jam ke dua berdentang. Berdentang sangat keras sekali sampai-sampai Evan menutup daun telinganya dengan kedua tangannya tapi tampaknya itu sebuah hal yang mustahil apabila ingin mencegah bunyi dentang lonceng untuk memasuki telinga nya. Evan tersungkur di tempatnya berpijak, dia tidak sadarkan diri. Lonceng di menara ke dua berbunyi 12 kali dan menyebabkan ilusi-ilusi dari jam-jam lain di sekeliling Evan dan di sekeliling bangunan itu buyar seperti asap. Dan semuanya menghilang dalam sekejap.
18 Desember 1989
Kamar Evan - 06.31 WIB, Jakarta
"EVANNN, EVANNN!!! BANGUN!!! UDAH SIANG INI, KAMU MAU TELAT KE SEKOLAH!!!!!!!!!!!!" suara teriakan itu membangunkan Evan dari tidur lelapnya. Dia terperanjat dan duduk diatas tempat tidurnya dengan selimut yang masih menutupi sebagian dari badan kecilnya. Dia sudah 12 tahun sekarang. "Aduh, mimpi apa tuh gue semalam?? seperti hidup banget jam-jam itu, dan dentang lonceng nya masih terngiang di kuping gue...itu mimpi??" ucap Evan dalam hati nya. Terasa di telinga Evan sakit akibat suara yang terlalu keras. "Maaaaa, kuping aku sakit nih...aduhhhh.." rintih Evan kepada Jane sedikit berteriak karena Jane sedang berada di lantai 1 sedangkan kamar Evan ada di lantai 2. Dalam hitungan detik, Jane sudah berhadapan dengan anaknya.
"Kamu kenapa van??" Jane mendorong pintu kamar Evan tergesa-gesa dan duduk di hadapan Evan.
"Gak tau nih ma. Tiba-tiba sakit kuping aku. Aduhhh..." rintih Evan sambil memegangi telinganya.
"Ya udah, kamu ikut mama ke dokter sekarang juga. Papa berangkat ke Solo tadi jam 5, katanya ada meeting, jadi kamu pergi sama mama ke Dr. Hariono sekarang juga..."
Jalanan di Jakarta tidak begitu padat karena mobil masih belum terlalu banyak. Hanya di butuhkan waktu 10 menit untuk mencapai kediaman Dr. Hariono, dokter langganan Evan semenjak dia berumur 7 tahun. Meski dia bukan spesialis dokter THT, tapi dia menguasai bagian itu. Bisa di bilang, dia adalah seorang dokter yang jenius. Dia menyelesaikan S3 nya di University Of Cambridge di UK, salah satu Universitas tertua di dunia. Jane sangat mempercayakan kesehatan keluarganya di tangan Dr. Hariono, karena memang terjamin kemampuannya. Pasien pada pagi hari itu hanya Evan seorang ditemani mamanya. Tidak butuh waktu lama untuk menemui Dr. Hariono. Evan duduk diatas tempat tidur di ruang kerja dokter, dan dokter hariono mulai memeriksa telinga Evan. "Ohhh, ini tidak apa-apa bu Jane. Evan hanya mendengar suara yang terlalu keras, jadi Evan akan merasakan dengungan di telinganya. Tidak perlu di khawatirkan bu, saya tidak menemukan perforasi pada gendang telinga anak anda. Apa anak anda suka mendengarkan Walkman?? kurangi itu karena bisa menimbulkan banyak bakteri pada telinga nya dan kalau terlalu keras, kejadian seperti ini bisa terjadi lagi" ujar Dr. Hariono menerangkan keadaan Evan kepada Jane dengan raut muka nya yang berkharisma. Dia memiliki kumis hitam di atas bibirnya, dan keriput-keriput sudah mulai tampak di wajahnya. Rambut nya sedikit beruban, tapi badannya tetap tegap dan bugar karena pola hidup sehat yang di terapkannya. "Betul dok, Evan sering mendengarkan Walkman. Inget tuh van, walkman kamu mama sita ya, biar telinga kamu gak begini lagi" kata Jane. "Yah maaa, aku dengerin apa dong kalo bosen??" keluh Evan. "yahh, mama kan udah beliin kamu Nintendo. Main itu saja lah, dan jangan terlalu kencang volume nya..".."Yahh, mama..." seru Evan kecewa. Didalam hatinya, Evan masih memikirkan tentang kejadian semalam. Tampak begitu nyata. Dia ragu apa telinga nya ini di sebabkan oleh lonceng itu atau kebiasaannya mendengarkan Walkman. Evan tidak ambil pusing. Dia tidak ingin memikirkan hal itu, dan sekarang sudah jelas kalau telinganya tidak apa-apa. Setelah di berikan resep obat oleh Dr. Hariono, mereka berdua pulang kerumahnya dibarengi rasa lega.
"Semalam dia sudah mendapatkan mimpinya. Waktu kita tinggal 4 hari, cepat laksanakan rencana kita. Ketahui tanggal nya, dan banggakan Rosewood VII...". "Oke, tapi dia belum terganggu dengan mimpi itu dan kita masih mempunyai 4 hari lagi. Kita tunggu perkembangan terakhirnya besok. Hari ini, cukup informasi yang kita peroleh, anak itu sudah bermimpi....". "Betul. Baiklah kalau begitu. Beri kabar kepada jajaran direksi, biarkan mereka puas akan hasil kerja kita Nick. Hahahaha...". "Yeahh Mark. Bersiaplah tabungan mu terisi angka dengan nominal yang besar..."
-The Evans Days On Earth-

No comments:
Post a Comment