Sidebar

Sunday, January 31, 2010

3. Tanda Misterius

"Papa!!! lempar bola nya kesini..cepaaattt!!!"
"Iyaa..haha..awas tuh, kamu mundur-mundur nanti kena orang yang lagi tiduran.."
Benar saja, Evan tersandung orang yang sedang berbaring menikmati cahaya matahari yang tidak terlalu panas namun tidak terlalu redup juga di Pantai Ancol, 1982. Pantai yang bersih dan luas. Pasir terhampar dan banyak anak-anak selain Evan yang bermain dengan keluarga nya di pantai itu. Ada yang membuat istana pasir, robot yang bentuk nya kurang jelas dan bahkan ada yang membut sebuah lingkaran tapi si anak bersikukuh kalau itu adalah persegi. Betul-betul hari minggu yang cerah untuk menghabiskan waktu dengan keluarga tercinta.

"Aduhhh.." seru Evan yang terjatuh karena berjalan mundur dan tidak mengetahui kalau di belakangnya ada seorang wanita yang sedang berbaring tidur. "Watch it kids!!!" ternyata dia adalah turis mancanegara. Dia tidak marah karena Evan sudah mengganggu waktu nya tapi malah menolong Evan yang hampir terjatuh karena menyandung badannya itu. "EVAN!!!" seru Thomas Wijaya kepada Evan, anaknya. Dia berlari menghampiri Evan dan jongkok membersihkan pasir di kaki Evan. "Are you alright kids??" tanya turis itu perhatian. "Ohh miss, thanks for your help...i'm sorry for my son. I'm his father.." balas Thomas kepada turis itu. Evan tidak mengerti apa yang ayah nya dan turis itu bicarakan karena Evan belum masuk sekolah. Dia masih berumur 5 tahun. Setelah berbincang sebentar, Thomas dan Evan meninggalkan turis itu. Si turis juga kembali melanjutkan aktivitas nya. "Kamu hati-hati dong van...Ini kan pantai, orang tiduran seenak mereka. Nah kalo kamu nya mundur-mundur gitu terus, kan seperti tadi tuh kena kakak bule..untung dia tidak marah sama kamu kan.." ujar Thomas kepada Evan. Evan diam saja tanda mengerti. "Ayo deh, kita main bola lempar lagi Van. Liat-liat belakang kamu yah sekarang, hehehe..".


Thursday, January 28, 2010

2. Louis Theodore Mort Dunville - 1676

"PERINTAHKAN SELURUH PERAJURIT UNTUK BERSIAP-SIAP DI POS JAGANYA, INI SERANGAN MENDADAK!!! SANGAT MENJIJIKAN SEKALI!!!!!!" teriak seorang dengan tubuh tinggi tegap dan berjanggut sedikit tebal tapi tidak terlalu panjang. Mata nya bulat hitam dan tajam, tanda kesigapan dan ketelitian nya yang tanpa batas. Jubah merah dengan motif kesatria yang anggun, menambah kharisma dan wibawa nya dalam memimpin 15.000 prajuritnya. Dia adalah Louis Theodore Mort Dunville, raja Olinesia.


Olinesia adalah kerajaan kecil yang berada di sebelah barat daya Britania Raya, tepatnya berbatasan dengan Plymouth. Kerajaan ini memang tidak pernah tersentuh oleh sejarah karena peradaban kerajaan ini hilang pada saat perang Raja Philips menggelora (1675-1676). Penduduk nya berjumlah 8.000 wanita dan anak-anak, belum termasuk laki-laki.


King Louis T. memerintahkan 5 jendral besar nya agar mengerahkan seluruh perajurit yang dimiliki Olinesia untuk membendung serangan dari para penduduk asli Amerika yang di pimpin Metacomet atau yang lebih di kenal dengan King Philip. Mereka berjumlah 30.000 prajurit pada saat melakukan ekspansi ke Olinesia dan di pimpin oleh Daniel Rosewood.

Tuesday, January 26, 2010

1. Kelahiran, awal dari segalanya...

19 Desember 1977, 16.55 WIB
RSTM, Jakarta, Indonesia

Suara tangisan itu memecahkan suasana tegang yang menghampiri selama kurang lebih 3 jam di Rumah Sakit Tjipto Mangunkusumo. Artikan sebagai sebuah jeritan tanda senang karena dia akhirnya bisa menghirup udara segar dunia yang baru baginya tangis itu namun bisa artikan juga kalau tangisnya itu adalah awal mula dari seluruh penderitaan nya. Dia tidak mengetahui apa-apa dan juga dia tidak meminta untuk di lahirkan dengan mengemban nama keluarga Mort yang sekarang sudah bertengger mesra di pundak kecilnya itu. Dia sangat tidak pantas untuk mengemban beban buah perilaku dari para leluhurnya itu. Terlalu murni untuk di campur adukan dengan limbah kotoran yang turun temurun menguasai keluarga itu. Dan kali ini limbah itu dengan segala kekejian nya menguasai dan bahkan merenggut bayi yang sama sekali belum bernoda dengan paksa, merasuk dan mengkonsumsi setiap sumsum tulang bayi yang masih empuk juga menempati setiap celah di rongga dada nya...Menduduki setiap sudut dari tubuh bayi itu, dan di detik hidup pertama sang bayi, bayi itu sudah menyimpan tanggal kematian nya sendiri dan dia akan tahu itu segera....


The Evan's Days On Earth


"ohh thom lihat dia, dia sangat mirip dengan Jessica. Mata hitam nya itu benar-benar mirip dengan Jessica. Aku tak bisa membayangkan bila Jessica melihat nya saat ini, dia pasti sangat senang melihat anak nya.." ucap Jane Brown kepada Thomas Wijaya suaminya. Jane Brown adalah seorang wanita Belanda yang tinggal dan menetap di Indonesia. Dia tinggal di Indonesia semenjak masih berusia 12 tahun dan sekarang usianya sudah menginjak kepala 3, tepatnya 35 tahun. Namun dia dan Thomas Wijaya, seorang pria asal Bandung yang adalah suaminya, tidak bisa memiliki keturunan karena Jane mandul dan Thomas karena cintanya yang begitu besar terhadap Jane, bisa menerima keadaan Jane yang tidak bisa memberinya keturunan. Thomas dan Jane adalah kawan karib Jessica Mort, teman Jane dari dia kecil. Dan Jessica Mort adalah ibu dari anak yang sekarang sedang menangis meraung di atas gendongan Jane. Jessica meninggal sewaktu melahirkan anak itu dan sekarang, hak asuh itu akan jatuh ke tangan Jane dan Thomas karena permintaan dari Jessica semasa hidupnya. Jessica tau, kapan waktu nya dia akan meninggal...