"Papa!!! lempar bola nya kesini..cepaaattt!!!"
"Iyaa..haha..awas tuh, kamu mundur-mundur nanti kena orang yang lagi tiduran.."
Benar saja, Evan tersandung orang yang sedang berbaring menikmati cahaya matahari yang tidak terlalu panas namun tidak terlalu redup juga di Pantai Ancol, 1982. Pantai yang bersih dan luas. Pasir terhampar dan banyak anak-anak selain Evan yang bermain dengan keluarga nya di pantai itu. Ada yang membuat istana pasir, robot yang bentuk nya kurang jelas dan bahkan ada yang membut sebuah lingkaran tapi si anak bersikukuh kalau itu adalah persegi. Betul-betul hari minggu yang cerah untuk menghabiskan waktu dengan keluarga tercinta.
"Aduhhh.." seru Evan yang terjatuh karena berjalan mundur dan tidak mengetahui kalau di belakangnya ada seorang wanita yang sedang berbaring tidur. "Watch it kids!!!" ternyata dia adalah turis mancanegara. Dia tidak marah karena Evan sudah mengganggu waktu nya tapi malah menolong Evan yang hampir terjatuh karena menyandung badannya itu. "EVAN!!!" seru Thomas Wijaya kepada Evan, anaknya. Dia berlari menghampiri Evan dan jongkok membersihkan pasir di kaki Evan. "Are you alright kids??" tanya turis itu perhatian. "Ohh miss, thanks for your help...i'm sorry for my son. I'm his father.." balas Thomas kepada turis itu. Evan tidak mengerti apa yang ayah nya dan turis itu bicarakan karena Evan belum masuk sekolah. Dia masih berumur 5 tahun. Setelah berbincang sebentar, Thomas dan Evan meninggalkan turis itu. Si turis juga kembali melanjutkan aktivitas nya. "Kamu hati-hati dong van...Ini kan pantai, orang tiduran seenak mereka. Nah kalo kamu nya mundur-mundur gitu terus, kan seperti tadi tuh kena kakak bule..untung dia tidak marah sama kamu kan.." ujar Thomas kepada Evan. Evan diam saja tanda mengerti. "Ayo deh, kita main bola lempar lagi Van. Liat-liat belakang kamu yah sekarang, hehehe..".
