Kediaman Evan Mort Dunville - 15.34 WIB, Jakarta.
"HAPPY BIRTHDAY EVAN!!!!!!!!!!!!" teriak seluruh undangan kepada Evan setelah Evan meniup api pada lilin berbentuk angka 12 itu. Jane dan Thomas, orang tua Evan, menyergap Evan berbarengan dan mencium pipi Evan sambil mengucapkan selamat ulang tahun bagi anak tercintanya. Bagi mereka, Evan adalah anugerah terindah yang mereka miliki dan merupakan satu-satunya yang akan mereka miliki, walau tidak sampai akhir. Kecupan manis dari sang orang tua menandakan kalau sekarang setiap undangan dapat memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Evan. Satu persatu, teman-teman Evan yang hadir bergantian menyalami Evan dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Tidak ada raut muka sedih pada hari itu. Semua berbahagia. Dan seperti biasa, Nina dan Steven baru saja datang, dengan alasan macet.
"Halooo Evan, maaf om telat. Biasa, Jakarta macet parah van! kamu tau sendiri, sekarang mobil banyak banget di Jakarta..." kata Steven dengan wajah sedikit memelas kepada Evan. "Ahh, si om mah! Udah tau aku ulang tahun jam 7 tadi, sekarang udah jam 8 baru dateng. Tukang telat nih emang dari dulu!!" gumam Evan menggerutu. "Aduuh, Evan sayaaaanngg. Tante udah berangkat dari jam 5 sore tau, tapi si om kamu itu bawa mobil nya lama. Udah tau dari Bekasi ke Pluit kan jauh yah??" kata Nina menyalahkan Steven. "Ini van, hadiah kamu. Mama papa mana??" kata Nina sambil menyerahkan bingkisan yang besarnya hampir setengah badan anak berumur 12 tahun. Sontak, Evan yang tadinya menggerutu langsung berubah senang karena kado yang besar baru saja di dapatnya dari kawan mama nya yang langganan telat setiap ada acara. "WAHHH, thanks yah om, tante..!!hehe..mama papa tuh lagi di meja makan. Lagi ngobrol sama orang tuanya teman-teman aku.." kata Evan sambil menunjuk ke arah Jane dan Thomas yang sedang berbincang bersama beberapa orang tua lainnya yang pada hari itu datang menemani anaknya memenuhi undangan ulang tahun Evan yang ke 12. "haha..dasar kamu Van. Dikasih hadiah langsung baik. Om kesana dulu yahh.." kata Steven sambil mengacak-ngacak rambut Evan.
Steven dan Nina sudah menikah sekarang. Akhirnya hubungan mereka mendapat restu dari keluarga kedua belah pihak setelah beberapa kali penolakan. Mereka menikah 2 tahun yang lalu di Bali dan Evan beserta orang tuanya, hadir dalam resepsi itu. Waktu itu, Evan berumur 10 tahun dan menurut kebanyakan orang, Evan termasuk anak yang cukup hiperaktif kalau tidak ingin di bilang nakal. Dia berlari-larian kesana kemari pada saat acara berlangsung. Thomas, sang papa sudah memperingati berkali-kali agar jangan berlari di tengah acara karena bisa menabrak seseorang yang sedang makan atau memegang champagne. Dan betul saja, pada saat para undangan sedang menikmati hidangan, Evan menabrak seorang tamu wanita berumur 59 tahun yang sedang menikmati makanannya. Kontan saja, wanita itu jatuh, makanannya jatuh, dan Evan terjatuh. Dan kejadian setelah itu, Evan di marahi oleh Thomas.
Evan 12 tahun, tetap hiperaktif namun dia disukai oleh teman-temannya. Tingginya 156cm dengan berat 48kg. Wajah nya tampan dan rambut nya sedikit urakan. Mata bulat nya berwarna coklat dan pipi nya sedikit tembam. Hidungnya sedikit mancung dan bibir tipisnya mengisyaratkan kalau Evan adalah anak yang cerewet, dan itu benar. Evan cukup tampan untuk anak seumuran nya.
"Evan, haha. Lihat di belakangmu!!" seru Jimmy Oktavianto, salah satu sahabatnya. Evan menoleh kebelakang dan, PROK!!!! kue pie mendarat tepat di wajah Evan sambil dibarengi tawa teman-temannya. Ide liar Evan keluar. Dia tidak marah. Sambil membersihkan kue pie yang ada di wajahnya, dia memikirkan bagaimana caranya membalas Richard Olson. "nice try Richard!!..feel my revenge!!!" seru Evan sambil melemparkan pula kue pie yang sudah ada di tangannya itu kearah Richard. Kue itu melayang cukup cepat, tapi gerakan mengelak Richard jauh lebih cepat. Kue itu mendarat di kepala Tania Sutedja. Tania adalah teman Evan yang paling cengeng. Pernah Evan menjahili dia dengan menceritakan tentang hantu penyapu lapangan sekolah tanpa kepala yang biasa mengganggu ketua kelas. Cerita itu hanya karangan Evan saja, tapi Tania dengan segala kepolosan ala anak kelas 6 SD, percaya 100% kepada cerita Evan!! Tentu saja setelah mendengar cerita itu, Tania menangis meraung-raung dan meminta agar jabatannya sebagai ketua kelas di copot kepada wali kelasnya. Dan baru saja, Evan dengan tidak sengaja melemparkan pie ke arah Tania (arah yang dituju adalah Richard pada awalnya) dan pie itu bersarang tepat di atas mahkota mainan yang di pakai Tania lengkap dengan dress cinderella nya. Kepala Tania kotor, dan dia menangis. Evan kaget, tapi Richard dan Jimmy malah tertawa terbahak-bahak, tapi tawa itu tidak berlangsung lama. Rina Aleksandra melemparkan 2 pie tepat kearah Richard dan Jimmy. Rina adalah teman sekelas Evan di kelas 6-B. Dia anak perempuan tertomboy di antara anak-anak lainnya. Dia hobby bermain sepakbola bersama anak laki-laki, dia suka bermain kejar-kejaran, dan dia tidak suka bermain Barbie!!. Orang tuanya suatu kali pernah membawakan boneka fashion itu kerumah dengan maksud agar Rina bermain dengan mainan yang sama seperti anak perempuan seumurnya kebanyakan. Ekspresi Rina datar sewaktu melihat boneka itu. Di kamar, Barbie itu di pandanginya dengan seksama. Di benaknya hanya ada pertanyaan "ini mainan macam apa??". Rina mengambil gunting kecil miliknya, menaruh Barbie di tangan kirinya dan tersenyum dengan bibir kecilnya yang pink. "Barbie, ayo kita main gunting-gunting rambut!!!". Dengan cepat, Rina menggunting rambut pirang Barbie miliknya. Barbie itu, botak.
Pie berterbangan kesana kemari tidak terkendali. Richard adalah korban dengan timpukan pie terbanyak saat itu. Anak berkacamata dan bertubuh sedikit gempal menyebabkan dia di juluki si Tambun di sekolah tapi Richard adalah seorang yang sangat kutu buku. Mungkin bisa dikatakan dia lebih memilih buku dari pada ikan bakar. Lain halnya dengan Jimmy. Dia adalah seorang anak yang sangat menggemari olah raga. Apapun jenis olah raganya, dia sangat menyukai itu. Dan Jimmy adalah salah seorang anak terpintar di kelas 6-B tapi dia tidak sekutu buku Richard Olson. Jimmy melemparkan pie itu kearah Evan namun Evan mengelak dan membalasnya dengan melempar sebuah pie ke arah Jimmy, HIT!!!! Wajah Jimmy berlumurah pie lebih lagi. "YES!!!" seru Evan. Tapi sebuah pie mendarat dibadan Evan. Dan itu adalah lemparan dari si jangkung, Anthony. Evan mengambil pie lagi dan melemparkannya kepada Anthony. Anthony ingin mengelak, tapi kaki nya terpeleset karena lantai yang licin akibat pie-pie yang berserakan. Tawa kembali meledak di ruang tengah kediaman Evan. Para orang tua belum ada yang mengetahui insiden perang Pie ini karena ruangan makan dan ruangan tempat berlangsungnya perang Pie ini cukup jauh dan di ruangan ini hanya ada Evan dan teman-temannya yang semua berjumlah 9 orang. Jessica baru saja ingin melempar Pie, tapi Rina merebut pie yang ada di tangan Jessica dan langsung menghujamkan pie manis itu ke wajah cantik Jessica. "hahaha..rasain lo jess!!!" ucap Rina senang. Jessica tampak tidak terima dengan perlakuan Rina. Dia mengambil Pie lagi dan ingin membalas Rina. Tapi sebuah pie yang tidak tau dari mana arahnya menghantam wajah nya lagi. Rina tidak mampu menahan tawanya, melihat wajah cantik Jessica sekarang berlumuran dengan pie.
"AHHHHH, aku kok kena mulu sihh??huhuhu.." ucap Jessica dengan nada suaranya yang imut. "Itu tanda jes, pie nya naksir sama kamu. Kamu cantik sih.." kata Benny sedikit memuji. Muka Jessica berubah merah mendengar kata-kata manis dari Benny meski wajahnya masih tertutup lumuran pie. "Hehe..sini aku lap pie nya.." Benny menawarkan sambil mengelap lumuran pie yang menutupi wajah Jessica. "ihhh, Benny baik yahh..Jessica seneng dehh..". "Ahh, tidak apa-apa Jess. Wajah cantik kamu nanti gak keliatan kan kalau pie ini terus-terusan nongkrong di muka mu..". "ahh, Benny mahh..". Perang pie terhenti mendadak. Semua anak yang tadinya saling melempar pie mendadak berpaling melihat Benny dan Jessica. Kelas 6 SD, namun tampaknya Benny sudah merasakan getaran terhadap Jessica. "CUITTT CUITTTTTTTT..WOOOOOOOOOO..CIEEE CIEEEEEEE..." seru teman-teman Benny dan Jessica kepada mereka berdua. Seperti tidak menghiraukan seruan dari teman-teman nya itu, Benny tetap membersihkan wajah Jessica dari pie yang menutupi wajah Jessica. Tidak berapa lama, wajah Jessica sudah bersih dari pie. Jessica tersipu-sipu malu melihat Benny yang terus memandangi nya sambil tersenyum.
"Hahahaha..udahhh, tembak Ben ,tembakkk.." seru Evan si pemilik acara dan teman-temannya mengekor perkataan Evan.
"Wahh, bentar lagi ada yang mau jadian nih...cieeee..guys, bentar lagi ada acara makan-makan. Tentunya bukan di acara ultah gue, tapi si Benny sama Jessica. Woohhooo.." seru Evan semangat.
"Yoi van, mami jadi bisa libur sehari deh gak usah bikinin bekal buat ke sekolah. Nanti kan ada makan-makan gratis..hahaha.." timpal Jimmy.
"Ahh, gue gak mau ditraktir makanan ah. Gue mau buku aja, traktir gue buku yah Ben..." kata Richard berharap. Dia tidak tertawa, ada yang aneh menurutnya melihat Benny membersihkan wajah Jessica. Mungkin Richard menaruh perasaan terhadap Jessica, terpendam barangkali.
"ANAK-ANAK!!!!!!!!!!!!!" para orang tua datang. Mereka kaget karena ruangan itu menjadi sangat kotor akibat pie yang tadi dilempar kesana kemari oleh mereka. Benny dan Jessica pun sekarang sudah berdiri berjauhan tetapi sambil tetap mencuri pandang 1 sama lain. Evan, Jimmy dan Richard lah yang paling kaget karena kedatangan para orang tua. Bersiap mendengar ocehan-ocehan lainnya karena insiden perang pie yang mereka anggap saat ini, lebih seru dibanding perang dunia ke II.
17 Desember 1989
Kediaman Evan Mort Dunville - 20.00 WIB, Jakarta
"Kasihan mbo Murti tuh sama pak Djarot ngebersihin ruang tamu karena perang pie kamu itu. Ada-ada aja sih kamu van..." kata Jane ibu nya Evan sambil menatap mbo Murti dan pak Djarot. "Yahh mah, itu si Jimmy sama Richard duluan tuh, mereka nemplokin muka aku sama pie yang ada di meja tadi. Ya udah, aku bales ehh kena si Tania. Perang deh semuanya..." jawab Evan sambil berharap agar alasan yang dia kemukakan dapat di terima. "Haha..ya sudah, ini kan ulang tahun kamu. Mama berharap kamu bisa jadi anak yang hebat ya van nanti. Kamu sudah besar sekarang, sudah 12 tahun. Rasanya baru kemarin mama gendong kamu sewaktu kamu baru lahir. Kamu imut-imut banget van waktu lahir. Mama rasanya pengen cubit terus..gemess!!". "Ahh, si mama...pantes pipi aku tembem nih sekarang, gara-gara mama sering cubit yah dulu waktu aku bayi??" protes Evan tapi bergurau. "Hahaha..kan lucu van kalo kamu tembem gitu". "Ya lucu sih ma, tapi kan pipi aku jadi mirip sama si Richard. Genduttt..". "Hahahhaa..kamu ini. Andai Jessica tidak meninggal........". "Hah?? Jessica siapa ma??". Jane terperanjat dengan pertanyaan Evan. Dia melantur. Dia mengucapkan nama Jessica di depan Evan dan Evan sekarang penasaran. "Mmmhh..Errr..Jessica itu..Jessica itu, teman mama van..iya, Jessica teman mama van waktu masih muda.." jawab Jessica sambil mencari jawaban teraman atas pertanyaan Evan. "Oohhh, si mama. Bilang temen aja sampe gugup gitu. Meninggalnya kenapa ma temen mama itu??" tanya Evan lagi. "Mmmhh..Dia kecelakaan van". Jane berbohong. Dia membohongi Evan. Dia tidak ingin Evan tau yang sebenarnya. Sebuah kebohongan beratas namakan cinta ibu terhadap anak yang tidak seharus di gendongnya. Anak atas nama tanggung jawab pemberian seseorang.
"Ya udah van, udah jam segini. Kamu bobo gih. Besok kan sekolah, yah??" bujuk Jane mengalihkan pembicaraan namun wajah gugup nya tidak tertutupi sama sekali. "Ihhh, mama. Baru jam 8. Aku kan biasa tidur jam 9 ma. Kok mama gugup sih??" tanya Evan dengan mimik penasaran. Jane berkelit "aduh, kamu kan cape tadi abis perang pie ama temen-temen. Takutnya besok kecapean pas sekolah. Udah, kamu tidur sekarang yah, jangan bandel Evan!" ucap Jane, nada suaranya meninggi. "Iyaa iyaaa..aku tidur ya ma. Dah mama". Evan melangkahkan kaki nya ke lantai 2 rumahnya. Menuju kekamarnya. Suara pintu tertutup terdengar oleh Jane. Itu adalah suara pintu dari kamar Evan. "Kau salah bicara Jane??" suara itu mengagetkan Jane. Jane menoleh kearah suara itu. "Ohh kau Thomas. Fiuuhh, aku pikir siapa" Jane menghela nafasnya. "Jangan ulangi itu lagi. Evan sudah 12 tahun. Dia bisa berpikir apa saja dan bisa menebak apa saja. Kau sudah di curigai oleh nya tadi. Aku melihatnya" kata Thomas serius. "Aku tau Thom. Aku hanya membayangkan kalau Jessica bisa melihatnya tumbuh sebesar ini. Dia begitu spesial. Tentu Jessica merindukan Evan di atas sana. Dia pasti senang sekali kalau tahu Evan adalah seorang anak yang sangat baik. Dia pasti bangga sudah melahirkan anak yang sangat spesial..." ujar Jane melemah. "Jangan diteruskan!! Sudah, cukup Jane.." potong Thomas.
"Mama sama papa lagi ngomongin apa sih?? kayak nya serius amat..." kata Evan dalam hatinya. Dia mendengar dengan samar-samar perkataan mama dan papa nya....
12 Desember 1989
Ruang Direksi - 21.42
"Dia berumur 12 tahun hari ini. Siap kan 5 hari. Kita harus segera mengetahui tanggalnya. Rosewood VII tidak main-main akan menjadikan kita patung lilin apabila kita gagal" kata seorang dengan jas hitam. Wajah nya tertutupi asap rokok yang mengepul dan juga oleh ruangan itu yang temaram. "Tapi Lance, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan tanggal kematiannya dalam waktu 5 hari?? that's impossible!!" balas Johnny Howard. "Pengeluh!!! aku bingung kenapa Rosewood bisa memilihmu menjadi salah seorang anggota direksi RCW Johnny!!!" nada suara orang pertama meninggi. "Kita akan masuk ke kehidupannya. Kita akan masuk kedalam keluarga Evan Mort Dunville......"
-The Evan's Days On Earth-

No comments:
Post a Comment